JAKARTA|pokjapwipolres.com – Pernyataan mengejutkan datang dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang mengisyaratkan rencana tak biasa setelah menanggalkan jabatannya: menjadi aktivis buruh.
Pernyataan bernuansa “kelakar serius” itu langsung menyita perhatian publik, terutama di tengah sorotan isu ketenagakerjaan dan gelombang dinamika hubungan industrial di Indonesia.
Mengutip sejumlah media nasional, termasuk Sindonews, Detik, Warta Ekonomi, Kompas, hingga Republika, Kapolri Sigit sebelumnya sempat menyinggung bahwa dirinya akan “berbalik arah” dari aparat penegak hukum menjadi bagian dari gerakan sosial setelah pensiun dari Polri.
“Kalau sudah selesai jadi Kapolri, saya gantian jadi aktivis,” demikian pernyataan Sigit yang dikutip media nasional dalam agenda kepolisian di Jakarta.
Pernyataan itu sontak memunculkan beragam reaksi publik. Sebagian menilai sebagai candaan khas Sigit yang komunikatif, namun tidak sedikit yang menafsirkan sebagai sinyal kedekatan emosional dengan isu-isu kerakyatan, termasuk buruh dan pekerja.
Di sisi lain, dalam pernyataan terpisah yang juga diberitakan media nasional, Kapolri menegaskan bahwa Polri terbuka terhadap gagasan kolaboratif antara negara dan masyarakat sipil, termasuk ruang pertukaran peran dalam birokrasi dan institusi publik.
Pengamat menilai, pernyataan tersebut mencerminkan gaya kepemimpinan Sigit yang cenderung populis dan dekat dengan isu sosial, meski sebagian lainnya menyebutnya sebagai “gimmick politik komunikasi publik”.
Sementara itu, wacana ini langsung viral di media sosial dan menjadi bahan perbincangan hangat, karena dianggap tidak lazim bagi seorang Kapolri menyatakan keinginan turun menjadi aktivis buruh setelah pensiun dari jabatan tertinggi kepolisian.
Hingga kini, belum ada klarifikasi tambahan apakah pernyataan tersebut bersifat serius atau sekadar gurauan di tengah forum resmi.
Pernyataan Kapolri Sigit ini membuka ruang interpretasi luas: antara simbol kedekatan dengan rakyat atau sekadar kelakar politik yang viral di ruang publik.***




















